PILKADES JAGARAGA INDAH: PERTARUNGAN GAGASAN ATAU PERTARUNGAN PENGARUH?

 



PILKADES JAGARAGA INDAH: PERTARUNGAN GAGASAN ATAU PERTARUNGAN PENGARUH?

Oleh: Nurdin, S.H.

Lombok Barat - SudutNTB.com - Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak, suhu politik di Desa Jagaraga Indah mulai perlahan meningkat. Sejumlah nama mulai muncul ke permukaan dan disebut-sebut siap meramaikan kontestasi.


Ada figur dari kalangan kepala dusun, tokoh pendidikan dan ketua yayasan, tokoh masyarakat, hingga kemungkinan kepala desa petahana yang dikabarkan kembali akan ikut dalam kontestasi.


Fenomena ini tentu menarik. Banyaknya figur yang berminat menjadi Kepala Desa menunjukkan bahwa jabatan Kepala Desa Jagaraga Indah memiliki daya tarik politik yang cukup besar.


Namun masyarakat perlu melihat lebih jauh.


Pilkades kali ini tidak cukup hanya menjadi pertarungan popularitas, kedekatan sosial, atau siapa yang memiliki pendukung paling banyak. Tantangan pemerintahan desa ke depan jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.


Di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dan semakin terbatasnya ruang fiskal, desa dituntut untuk mampu bertahan dan berkembang dengan cara yang lebih kreatif.


Persoalan Jagaraga Indah menjadi semakin menarik karena desa ini belum memiliki aset desa yang benar-benar produktif dan dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi desa.


Artinya, siapa pun yang nanti terpilih tidak bisa hanya mengandalkan Dana Desa.


Pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang benar-benar memiliki kemampuan dan strategi untuk membawa Jagaraga Indah keluar dari ketergantungan terhadap anggaran pemerintah?


Apakah cukup dengan janji-janji kampanye?


Apakah cukup dengan slogan perubahan?


Ataukah dibutuhkan pengalaman nyata dalam menghadapi birokrasi, mengelola pemerintahan, memahami persoalan masyarakat, serta membangun jaringan untuk kepentingan pembangunan desa?


Masyarakat tentu berhak mendengar gagasan dari seluruh bakal calon. Namun masyarakat juga berhak membandingkan janji dengan rekam jejak.


Calon baru mungkin menawarkan semangat perubahan. Itu sah dan merupakan bagian dari demokrasi.


Tetapi perubahan tanpa pengalaman dan pemahaman terhadap tata kelola pemerintahan juga memiliki risiko.


Sebaliknya, pengalaman tanpa inovasi juga tidak cukup.


Karena itu, masyarakat Jagaraga Indah perlu memilih dengan pikiran yang jernih.


Hal lain yang juga menarik untuk dicermati menjelang Pilkades adalah dinamika dukungan politik dan sosial. Dalam setiap kontestasi desa, dukungan dari berbagai kelompok masyarakat tentu memiliki pengaruh.


Pertanyaannya, apakah Pilkades Jagaraga Indah nanti benar-benar akan menjadi pertarungan gagasan para calon, atau justru menjadi pertarungan pengaruh dari tokoh-tokoh yang berada di belakang mereka?


Apakah tokoh masyarakat akan menentukan arah?


Apakah tokoh agama akan memberikan dukungan secara terbuka?


Apakah kekuatan politik di tingkat kabupaten akan ikut memainkan peran?


Ataukah masyarakat Jagaraga Indah justru akan menunjukkan kedewasaan politiknya dengan menentukan pilihan secara mandiri, tanpa tekanan dan tanpa dikendalikan oleh kepentingan siapa pun?


Pertanyaan-pertanyaan ini penting bukan untuk menciptakan konflik, melainkan untuk membuka kesadaran politik masyarakat.


Desa harus menjadi ruang demokrasi yang sehat.


Tokoh agama tentu memiliki posisi penting sebagai panutan moral masyarakat. Tokoh politik memiliki pengaruh dalam jaringan kekuasaan. Tokoh masyarakat memiliki kedekatan dengan warga.


Tetapi pada akhirnya, suara rakyatlah yang harus menentukan.


Jangan sampai Pilkades hanya menjadi pertarungan siapa yang memiliki tokoh paling kuat di belakangnya.


Yang lebih penting adalah siapa calon yang memiliki gagasan paling realistis untuk masa depan Jagaraga Indah.


Masyarakat perlu bertanya kepada setiap bakal calon:


Apa yang akan dilakukan ketika Dana Desa semakin terbatas?


Bagaimana membangun sumber ekonomi desa ketika aset produktif belum tersedia?


Bagaimana menciptakan Pendapatan Asli Desa?


Apa strategi mengembangkan BUMDes?


Bagaimana membawa investasi dan peluang ekonomi masuk ke desa?


Dan yang paling penting, apa yang sudah pernah dilakukan untuk masyarakat sebelum mencalonkan diri sebagai Kepala Desa?


Pilkades kali ini seharusnya menjadi momentum bagi masyarakat Jagaraga Indah untuk tidak lagi memilih hanya berdasarkan kedekatan, popularitas, hubungan keluarga, atau sekadar janji perubahan.


Masyarakat harus mulai melihat kapasitas, pengalaman, rekam jejak, jaringan, serta gagasan setiap calon.


Karena menjadi Kepala Desa di tengah keterbatasan anggaran bukan pekerjaan mudah.


Dibutuhkan pemimpin yang memahami birokrasi, mampu membangun komunikasi dengan pemerintah di atasnya, memiliki jaringan, berani mengambil keputusan, sekaligus mampu melahirkan inovasi.


Pada akhirnya, Jagaraga Indah tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar pandai berbicara tentang perubahan.


Desa membutuhkan pemimpin yang memahami persoalan, memiliki pengalaman menghadapi kenyataan, dan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang.


Pilkades bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki pendukung hari ini.


Pilkades adalah tentang siapa yang paling siap memikul tanggung jawab untuk masa depan Jagaraga Indah.


Dan masyarakatlah yang pada akhirnya harus menjadi penentu—bukan tekanan, bukan kelompok tertentu, dan bukan kekuatan politik yang berada di belakang layar.


Nurdin, S.H.

Pemerhati Pemerintahan dan Pembangunan Desa


(SudutNTB.com/Red)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
SUDUT NTB
SUDUT NTB
SUDUT NTB
SUDUT NTB

Formulir Kontak