Untukmu Sang Perintis Kabupaten Lombok Utara


SudutNTB.com - Lombok Utara  (NTB) -  Tidak semua hal besar lahir dari riuhnya kata-kata. Ada yang justru tumbuh dalam diam, mengakar dalam keteguhan, lalu meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus oleh waktu. 


Barangkali, itulah yang tergambar dari sosok yang kini dikenang oleh sebagian masyarakat Lombok Utara. Sebuah sosok yang tidak banyak berbicara, tetapi menghadirkan makna melalui sikap dan tindakan. 


Di balik sorot mata yang tampak tenang, tersimpan perjalanan panjang—tentang perjuangan, kelelahan, kesabaran, bahkan luka yang tak selalu terlihat. Namun, seperti halnya kehidupan, semua itu tidak menjadikannya berhenti. Justru menjadi bagian dari proses yang membentuk keteguhan. 


Masyarakat mungkin tidak selalu menyuarakan apa yang dirasakan. Namun dalam diam, ada rindu, ada penghargaan, dan ada doa yang terus mengalir. Doa agar sosok ini senantiasa diberikan kesehatan, ketenteraman, dan keberkahan oleh Allah SWT. 


Yang menarik, bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi bagaimana cara menjalaninya. Ketika banyak orang memilih mengeluh, ia justru mengajarkan untuk menahan. Ketika banyak yang mencari tempat bersandar pada manusia, ia mengingatkan untuk kembali kepada Sang Pencipta—terutama di sepertiga malam, dalam sunyi yang paling jujur. 


Pesan ini sederhana, tetapi tidak semua orang mampu menjalaninya. 


Sebagai bagian dari sejarah Lombok Utara, peran

H. Djohan Sjamsu, SH

tidak dapat dipisahkan. Mulai dari keterlibatan dalam pemekaran daerah, menjadi Sekretaris Daerah pertama, hingga menjabat sebagai Bupati Lombok Utara dalam dua periode (2010–2015 dan 2020–2025), kontribusinya telah mewarnai perjalanan daerah ini. 

Pembangunan infrastruktur pemerintahan, penataan kawasan, hingga inisiasi jalan lintas utara adalah bagian dari upaya membangun fondasi daerah. Memang, tidak semua dapat diselesaikan dalam satu waktu. Namun, proses yang dimulai tetap menjadi pijakan bagi langkah selanjutnya. 

Di sinilah letak perbedaannya: antara mereka yang hanya berbicara tentang perubahan, dan mereka yang benar-benar memulainya. 

Tentu, tidak ada kepemimpinan yang berjalan tanpa ujian. Kritik, perbedaan pandangan, bahkan ketidakadilan adalah bagian dari dinamika yang tak terhindarkan. Namun yang menjadi ukuran bukanlah bebasnya seseorang dari ujian, melainkan bagaimana ia meresponsnya. 

Dan dalam banyak hal, kesabaran tampak lebih dominan daripada kemarahan. 

Hubungan antara pemimpin dan masyarakat tidak selalu diukur dari kedekatan yang tampak. Ada ikatan yang lebih dalam—yakni rasa memiliki dan dedikasi terhadap daerah. Ikatan inilah yang membuat sebuah nama tetap hidup dalam ingatan, bahkan ketika masa jabatan telah usai. 

Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah berkuasa, tetapi siapa yang memberi makna. 

Pada akhirnya, sosok yang besar bukan hanya mereka yang pandai merangkai kata, tetapi mereka yang mampu menjaga ketulusan, memperluas kesabaran, dan tetap berjalan di tengah berbagai keterbatasan. 

Dan mungkin, benar adanya: semakin halus rasa seseorang, semakin luas pula ruang jiwanya—seperti samudra yang mampu menerima banyak aliran tanpa kehilangan kejernihannya. 

Lombok Utara akan terus berjalan. Waktu akan terus bergulir. Namun jejak pengabdian yang lahir dari ketulusan tidak akan mudah hilang. 

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan perlindungan, kesehatan, dan keberkahan. 

Amin Ya Rabbal ‘Alamin.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
SUDUT NTB
SUDUT NTB
SUDUT NTB
SUDUT NTB

Formulir Kontak