Dari Batu Kumbung, Al-Qur’an dan Demokrasi Dipertemukan: MTQ XXXII Lingsar Serukan Persaudaraan Jelang Pilkades

Lombok Barat,  SudutNTB.com - Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026, pesan persaudaraan dan kedewasaan berdemokrasi menggema dari Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar.

Bukan dari panggung politik, melainkan dari lantunan dan nilai-nilai Al-Qur’an dalam pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXII Kecamatan Lingsar, Jumat, 2 Oktober 2026.

Mengusung tema “Gaungkan Al-Qur’an Menuju Sejahtera dari Desa, Sukseskan Pilkades Serentak Tahun 2026”, MTQ tahun ini tampil dengan pesan yang lebih luas. Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dilombakan, tetapi didorong menjadi nilai yang hadir dalam kehidupan sosial, termasuk dalam menghadapi momentum demokrasi di tingkat desa.

Pesan itu semakin terasa ketika Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) H. Saepul Akhkam memilih datang lebih awal sebelum acara pembukaan.


Kehadiran lebih awal tersebut dimanfaatkan untuk berdialog langsung dengan berbagai elemen yang hadir. Dalam perbincangan yang berlangsung hangat, tampak antusiasme dan dukungan dari unsur legislatif, kepala desa, tokoh masyarakat hingga kepolisian terhadap pelaksanaan Pilkades serentak.

Dua hal menjadi perhatian penting dalam diskusi tersebut: kebebasan masyarakat menentukan pilihan dan terjaganya keamanan serta ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Pesannya sederhana, tetapi penting: demokrasi boleh menghadirkan perbedaan pilihan, namun perbedaan itu tidak boleh memutus persaudaraan.

Pembukaan MTQ diawali laporan ketua panitia yang menyampaikan bahwa sebanyak 295 peserta ambil bagian dalam MTQ XXXII Kecamatan Lingsar. Mereka merupakan wakil terbaik dari desa-desa se-Kecamatan Lingsar.

Ratusan peserta tersebut menjadi gambaran bahwa MTQ bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang pembinaan generasi dan penguatan tradisi keagamaan di tingkat desa.

Camat Lingsar Marzuki, S.Ap., dalam sambutannya menegaskan bahwa MTQ tidak semata-mata ditujukan untuk mencari juara. Lebih dari itu, MTQ merupakan bagian dari ikhtiar membumikan Al-Qur’an agar nilai-nilainya hadir dalam kehidupan masyarakat.

Dalam konteks Pilkades serentak, Marzuki mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga Kamtibmas. Nilai-nilai Al-Qur’an, menurutnya, dapat menjadi pijakan dalam menjunjung demokrasi sekaligus menjaga persaudaraan.

Perbedaan pilihan dalam Pilkades merupakan sesuatu yang wajar. Yang harus dijaga adalah integritas proses dan persaudaraan masyarakat.

Ia pun mengingatkan seluruh pihak agar menjunjung tinggi integritas dalam setiap tahapan pelaksanaan Pilkades.

MTQ XXXII Kecamatan Lingsar sendiri dijadwalkan ditutup pada 5 Oktober 2026.

Saat membuka MTQ secara resmi, Pj Sekda H. Saepul Akhkam menyampaikan apresiasi kepada seluruh kepala desa yang telah mengutus kafilah terbaik dari masing-masing desa.

Menurutnya, pola perutusan yang berbasis desa memiliki arti penting karena memberikan ruang lebih besar kepada desa untuk mengambil bagian dalam pembinaan Al-Qur’an. Terlebih, pelaksanaan MTQ tahun ini bersinggungan dengan momentum Pilkades serentak.

Pemilihan kepala desa pada akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang mendapatkan suara terbanyak, tetapi tentang ikhtiar masyarakat untuk mendapatkan pemimpin yang memiliki kemampuan secara intelektual maupun spiritual.

Di titik inilah nilai MTQ menemukan relevansinya.

Syiar Al-Qur’an dan proses demokrasi desa dapat berjalan beriringan apabila keduanya dibangun di atas integritas, tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama.

Saepul juga menilai perutusan peserta dari masing-masing desa dapat mendorong semakin aktifnya peran LPTQ desa dalam melakukan pembinaan dan pengembangan kegiatan Al-Qur’an di tingkat masyarakat.

MTQ tahun ini juga memiliki perkembangan tersendiri dengan ditambahkannya cabang Hadis, sehingga pelaksanaannya menjadi MTQH.

Perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang peningkatan kualitas. Saepul mengingatkan para dewan hakim atau dewan hakam agar terus memperkuat kapasitas dan pemahaman, terutama menghadapi kecenderungan materi dan cabang lomba yang kemungkinan akan berkembang di tingkat MTQH yang lebih tinggi.

Selain itu, sistem pendaftaran melalui e-MTQ menjadi bagian penting dalam pembenahan tata kelola peserta.

Pendaftaran berbasis sistem elektronik diharapkan mampu mengikat dan menertibkan kepesertaan, sekaligus meminimalisir potensi kecurangan dari sisi peserta.

Dengan demikian, kompetisi tidak hanya dituntut melahirkan juara, tetapi juga berlangsung dengan proses yang tertib dan berintegritas.

Yang menarik dari MTQ XXXII Lingsar kali ini bukan hanya jumlah peserta atau cabang yang diperlombakan. Ada sesuatu yang lebih besar yang tampak di balik panggung MTQ: kebersamaan berbagai elemen masyarakat. Eksekutif, legislatif, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan kepolisian hadir dalam satu ruang.

Mereka mungkin memiliki latar belakang dan peran yang berbeda. Namun dalam momentum tersebut, ada satu titik temu yang sama: mensyiarkan agama, menjaga persatuan dan memastikan masyarakat tetap hidup dalam suasana aman dan damai menjelang Pilkades serentak.

Kebersamaan semacam ini menjadi modal sosial yang penting bagi Lombok Barat.

Sebab pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan kebijakan dan anggaran. Ia juga membutuhkan masyarakat yang mampu menjaga persaudaraan ketika pilihan berbeda, mampu menghormati proses demokrasi, dan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Dari Batu Kumbung, pesan itu menemukan panggungnya.

Al-Qur’an mengajarkan persaudaraan. Demokrasi memberi ruang bagi perbedaan pilihan. Dan desa membutuhkan keduanya berjalan bersama.

Pilkades mungkin akan mempertemukan masyarakat dengan pilihan yang berbeda. Namun setelah pilihan ditentukan, masyarakat tetap akan hidup di desa yang sama, bertetangga di lingkungan yang sama, dan membangun masa depan Lombok Barat bersama-sama.


Karena itu, MTQ XXXII Kecamatan Lingsar tahun ini bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.

Lebih jauh, ia menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa sebuah desa akan lebih kuat ketika perbedaan pilihan tidak berubah menjadi perpecahan, dan syiar agama tidak berhenti di atas panggung, tetapi menjelma menjadi akhlak dalam kehidupan bersama.

(SudutNTB.com/Red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
SUDUT NTB
SUDUT NTB
SUDUT NTB
SUDUT NTB

Formulir Kontak